Home Embassy About The Embassy
Search
About The Embassy

PEMBUKAAN

KANTOR INDONESIA (INDONESIAN OFFICE)

DI RANGOON TAHUN 1947

Revolusi yang menjadi alat tercapainya kemerdekaan, tampaknya bukan hanya merupakan suatu kisah sentral dalam sejarah, melainkan juga merupakan unsur yang kuat di dalam persepsi bangsa Indonesia tentang dirinya. Setiap usaha mencari identitas untuk persatuan menghadapi bangsa asing serta untuk suatu tatanan sosial yang lebih baik selalu merupakan kisah kompleks yang saling bertautan. Demikian pula halnya dengan perjuangan yang dilakukan oleh sejumlah tokoh pergerakan di luar negeri, semuanya dimaksudkan untuk mendukung cita-cita kemerdekaan. Bahkan situasi dunia pun, secara tidak langsung memberi kontribusi ke arah tujuan nasional kita ketika itu.

Beberapa waktu setelah perjanjian Anglo Burmesse ditandatangani pada tanggal 27 Januari 1947 oleh Perdana Menteri Inggris Sir Attlee dan Jenderal Aung San yang intinya menyetujui pembentukan executive council Interim Government of Burma sebagai pemerintahan sementara menjelang kemerdekaan, Pemerintah Birma telah berani memberikan izin bagi pembukaan Indonesian Office di Rangon. Bagi Indonesia yang ketika itu masih membutuhkan dukungan internasional, izin tersebut merupakan pengakuan dunia terhadap eksistensi sebuah negara berdaulat. Simpati ini bahkan dinyatakan dengan sangat berani oleh pemimpin Birma dengan menyebut wakil Indonesia sebagai Representative of the Republic of Indonesia di depan Kuasa Kerajaan Belanda.

Pada mulanya Indonesian Office lebih merupakan kegiatan "gerilya" yang dilakukan oleh Marjunani. Selain belum mempunyai kedudukan resmi, syarat-syarat untuk membuka kantor pun belum dapat dipenuhi. Begitu berat tantangan yang terbentang merintangi perjuangannya dalam merintis hubungan dengan dunia luar. Walaupun belum dapat mengakui keberadaan Indonesia secara resmi karena ikatan internasional, akan tetapi mereka dapat menunjukkan sikap yang lebih dari sekedar rasa simpati. Wujud konkrit dari dukungan itu ditandai dengan bantuan berupa tempat kediaman dan kantor pada suatu ruangan di gedung Kementerian Luar Negeri. Bahkan pada saat itu, Menteri Keuangan U Tin Htut memperlakukannya seperti keluarga sendiri dan sering mengundang makan bersama.

Untuk membantu kegiatan perjuangan, Duta Besar RI di New Delhi, dr. Sudarsono kemudian berupaya menambah satu orang staf lagi. Di saat kunjungannya ke Singapura, Kepala Perwakilan RI di Singapura, dr. Oetojo Ramelan merekomendasikan Aswismarmo, perwira yang dikirim oleh pendiri intel Indonesia, Kolonel Zulkifli Lubis ke Singapura sejak Nopember 1946. Aswismarmo saat itu sedang bertugas ke Bangkok untuk mengupayakan bantuan obat-obatan dari Thailand ke Indonesia, segera diperintahkan untuk berangkat ke Birma pada akhir tahun 1947.

Namun rupanya kekurangan-kekurangan ketika itu tidak hanya terbatas pada masalah akomodasi dan kantor, tetapi juga mengenai izin berdomisili. Untuk itulah, dalam rangka merintis Indonesian Office, kita tidak dapat melupakan jasa putra-putra terbaik Birma yang telah banyak membantu baik secara moril maupun materil. Satu di antaranya adalah Sithu U Vum Ko Hau (seperti diketengahkan dalam sub bab-A). Ia adalah seorang Deputy Permanent Secretary Kementerian Luar Negeri Birma. Disamping tugas resminya, ia sangat aktif membantu memperjuangkan kepentingan Indonesia. Tidak jarang, ia bahkan mempergunakan jabatannya memperkenalkan diplomat dan politisi Indonesia kepada wakil negara tetangga dan wakil negara barat untuk mencari simpati dan dukungan. Perkenalan semacam itu sangat diperlukan sebab masih banyak negara yang belum mendukung perjuangan kita. Tantangan mendasar ketika itu adalah bagaimana secara pro aktif mendapatkan pengakuan dunia tentang eksistensi Indonesia.

Pada tanggal 18 Desember 1948 pesawat-pesawat tempur Belanda melakukan serangan terhadap ibu kota RI Yogyakarta, dan selanjutnya pada 19 Desember 1948, 135.000 personil pasukan para 3) diterjunkan di pangkalan Maguwo. Mereka berhasil menahan Presiden RI dan seluruh menteri kabinetnya, menguasai kota-kota dan jalan-jalan serta merobek-robek posisi pertahanan militer, sehingga pada awal Januari 1949 Panglima Tertinggi Tentara Belanda dengan congkaknya mengatakan: "operasi telah berhasil dilaksanakan, RI telah dihancurkan dan kemenangan akhir berada di tangan Belanda". Pernyataan tersebut tidak dapat diterima begitu saja oleh pimpinan bangsa Indonesia, melainkan tetap melanjutkan perjuangan guna menunjukkan keberadaan dan pemerintahannya kepada dunia internasional dengan cara mengalihkan pemerintahan pusat kepada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi, pimpinan Mr. Syafrudin Prawiranegara dan TNI menyelenggarakan pemerintahan militer di Jawa. Bagi Indonesia, peristiwa serangan terhadap ibu kota RI Yogyakarta itu merupakan perang kemerdekaan ke-2 untuk kembali mengusir pendudukan Belanda di Indonesia.

Dahsyatnya serangan ini mengakibatkan hampir semua pangkalan udara di Jawa dan Sumatera mengalami kelumpuhan, sehingga pesawat-pesawat tidak dapat beroperasi lagi. Kita beruntung karena masih ada pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang dibeli dari Singapura oleh masyarakat Aceh yang diketuai oleh Djuned Jusuf dan Said Muhammad Alhabsji dengan sejumlah uang dan emas sebanyak 20 kg. Pada saat pesawat masih berada di Kalkuta untuk melaksanakan overhaul setelah melakukan 50 jam terbang di dalam negeri, hubungan dengan tanah air terputus dan pangkalan sudah hancur. Ditinjau dari segi militer, maka pesawat tersebut tidak mungkin kembali ke Indonesia. Sebaliknya jika terus tinggal di India akan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk membayar sewa parkir, pemeliharaan dan biaya hidup awak pesawat. Dalam rangka mengatasi masalah keuangan tersebut, timbul ide dari Opsir Udara II Wiweko Supeno dan Opsir Udara III Sudarjono untuk membuka penerbangan niaga. Ide ini disampaikan kepada Duta Besar, dr. Sudarsono, yang meneruskannya kepada pemerintah India. Dengan sangat kecewa usulan tersebut ditolak dengan alasan telah memiliki Indian National Airways (INA). Akhirnya dicari negara lain yaitu dengan menghubungi Kepala Perwakilan RI di Birma. Usulan ini diterima karena kebetulan kondisi transportasi darat dan air di wilayah ini dalam keadaan rusak berat dan hancur akibat pemberontakan dari ekstrim kiri yaitu the White Flag People Volunteers Organization dan Yellow Flag People Volunteers Organization serta perlawanan golongan ekstrim kanan dari suku Karen. Salah satu jenis angkutan yang ideal adalah dengan menggunakan angkutan udara.

Pada tanggal 26 Januari 1949 pesawat RI-001 diterbangkan dari Kalkuta menuju Mingladon Airport Rangon, tanggal ini dijadikan awal berdirinya perusahaan penerbangan Indonesian Airways. Dalam dua hari Opsir Udara II Wiweko Supono dan Opsir Udara III Sudarjono dibantu oleh Marjunani berhasil mendirikan satu badan hukum Indonesian Airways. Sejak tibanya pesawat ini langsung disewa oleh Union of Burma Airways.

Hubungan militer yang terjadi antara kedua negara, yang ada kaitannya dengan kehadiran pesawat ini yaitu:

  1.  Selain sebagai pesawat niaga, juga digunakan oleh Jenderal Ne Win untuk mendukung operasi militer dengan tugas pengangkutan pasukan, pengang- kutan senjata, amunisi serta bom dan bahan makanan bagi pasukan yang terkepung oleh pemberontak, sehingga alat angkutan ini berfungsi sebagai pesawat militer, pejabat dan untuk VIP. Pada setiap percobaan penggunaan bandara baru, pesawat ini juga melayani permintaan dalam rangka pengecekan serta testing penggunaan lapangan terbang
  2. Angkatan Darat Birma telah membantu pengadaan persenjataan yang akan digunakan oleh pejuang Indonesia di tanah air. 
  3.  Dengan dukungan Jenderal Ne Win, pesawat RI-001 berhasil melakukan dua kali penerobosan blokade masing-masing ke Blang Bintang dan Lho’nga, Aceh, sekaligus menyelundupkan senjata, amunisi dan bahan bakar minyak guna mendukung perjuangan bangsa Indonesia. Barang-barang perlengkapan tersebut disiapkan oleh anggota angkatan darat Birma yang dimuat di Margui, selanjutnya diselundupkan ke Kutaradja. Perlengkapan tersebut diterima oleh Kolonel Hidajat, Opsir Udara Sujoso, Karsono dan Kapten Musakir Walad di Kutaradja. Mengingat pentingnya penerbangan ini, maka pesawat langsung dipimpin oleh Opsir II Wiweko dengan gerakan penerbangan yang tersamar menghindari sergapan pesawat tempur Belanda.
  4. Sebagai balas jasa, KSAD Birma Jenderal Ne Win membantu pendirian stasiun radio dengan Opsir Muda Udara III Sumarno sebagai operator. Pekerjaan ini sangat berat sehingga dibutuhkan tenaga tambahan dari operator radio yang berada di Aceh. Wakil KSAU III Opsir Udara I Sujoso Karsono kemudian mengirimkan Sersan Mayor Udara Suastomo dengan cara diselundupkan melalui Thailand ke Rangon menggunakan motor boat Out Law milik TNI Angkatan Laut pimpinan Mayor Laut John Lie. Out Law juga melakukan tugas penerobosan blokade dan penyelundupan persenjataan dari luar negeri untuk dikirim ke Aceh dan Sumatera.  
  5. Stasiun radio ini berhasil menghubungkan Indonesian Airways di Birma dengan seluruh pangkalan TNI AU di Indonesia, PDRI di Sumatera dan pemerintah militer di Jawa. Tugas yang paling penting adalah menyampaikan berita perjuangan ke perwakilan RI di luar negeri maupun PBB di New York. Salah satu berita penting yang disampaikan adalah peristiwa Serangan Umum 11 Maret 1949 dan gelombang serangan di Surakarta berturut-turut pada tanggal 7, 9 dan 10 Agustus 1949. Hasil nyata yang diperoleh ialah adanya opini dunia dan PBB yang memaksa Belanda agar menghentikan tembak menembak dengan pejuang Indonesia, yang selanjutnya menghasilkan persetujuan Roem Royen yang mengembalikan Yogyakarta kepada RI dan Konperensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949 yang memulihkan kedaulatan Republik Indonesia. Jelas pemancar radio bantuan Jenderal Ne Win sangat menguntungkan Indonesia dan sangat berarti dalam segi diplomasi maupun dalam segi perjuangan militer di Tanah Air. 
  6. Indonesian Airways dengan pesawat tunggalnya terus mengembangkan sayap dengan terbang non stop ke seluruh dirgantara Birma, sehingga tidak ada bandara yang tidak pernah disinggahi, baik untuk keperluan niaga, pemerintah maupun untuk operasi militer. Jenderal Ne Win selalu membayar tepat waktu biaya sewa pesawat, sehinga dalam jangka waktu tiga bulan Indonesian Airways mampu membeli sebuah pesawat dari Hong Kong dengan nomor registrasi RI-007, serta ditambah dengan pesawat Dakota sewaan dengan nomor registrasi RI-009. Keuangan perusahaan semakin kuat sehingga banyak membantu Pemerintahan Indonesia dan perwakilan-perwakilan RI di Birma, India dan Pakistan serta pendidikan kadet penerbang ke luar negeri. Tercatat 20 kadet dikirim ke Flying School of United Province di Allaha dan Baumrally, India dan pendidikan personil TNI AU ke Far Eastern Aero Technical Institute di Philipina seperti Opsir Muda Udara TNI AU Nurtanio Pringgoadisurjo dan Sersan Udara Muljono.  
  7. Awak pesawat menerapkan sikap ramah dalam merebut hati masyarakat sehingga para penumpang merasa senang dengan pelayanannya. Para pengusaha memilih maskapai ini karena sering memberikan kelebihan berat muatan tanpa melupakan gross weight limit. Mereka telah mendengar tentang keberanian, kecakapan dan ketenangan awak pesawat Indonesian sewaktu melaksanakan tugas-tugas penerbangan militer, droping pasukan dan logistik di wilayah musuh, pengangkutan VIP, dan pernah menghadapi serangan pemberontak, tetapi senantiasa berhasil menyelamatkan diri. Satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah para Opsir TNI AU khususnya dari Opsir Muda Udara III Sumarno banyak membantu pemerintah dan militer Birma dalam pembentukan Jawatan Penerbangan Sipil, mendidik juru radio dan petugas tower, pengelolaan pengamanan penerbangan, pemasangan aeronautical fixed telecommunication network set, rambu-rambu penerbangan dan pembuatan prosedurnya. 
  8. Dengan kondisi Indonesia yang telah membaik, maka RI-001 Seulawah kembali ke tanah air. Pesawat carteran RI-009 dikembalikan kepada pemiliknya semula, sedangkan pesawat RI-007 dihadiahkan kepada Pemerintah Birma oleh KSAU Komodor Udara S. Suryadarma pada suatu upacara di Mingladon Airport tanggal 31 Oktober 1950. Peristiwa ini merupakan hari bersejarah bagi kedua bangsa dan sampai saat ini pesawat tersebut masih menghiasai Defence Services Historical Museum Yangon. 
  9. Perlu dicatat bahwa dalam rangka pendirian perusahaan penerbangan Indonesian Airways ini diperoleh bantuan dari simpatisan seorang mahasiswa dan general manager surat kabar Rangoon Post yaitu U Maung Maung. Ia sangat aktif membantu usaha mendapatkan izin. Setahun sebelumnya, U Maung Maung juga telah berjasa membantu Marjunani dalam rangka pembukaan perwakilan sehingga mendapat kehormatan untuk menjabat sebagai pembantu utama di perusahaan Indonesian Airways. Selain itu, U Maung Maung juga mendapat kehormatan menaikkan Sang Merah Putih untuk pertama kalinya pada waktu peresmian Indonesian Office yang berlokasi di Tamwe Road (sekarang Natmauk Road) no. 30 pada bulan Pebruari 1948. Hal inilah yang menyebabkan ia dikejar-kejar oleh anak buah Van Beuzekom, Duta Besar Belanda di Birma. 
  10. Tapak demi tapak perjuangan itu dapat dilalui dan akhirnya usaha Indonesian Office dibawah pimpinan Marjunani didukung oleh sahabat-sahabat pencinta kemerdekaan telah dapat mencapai hasil yang cukup memuaskan memperkenalkan Indonesia di negeri masyarakat bersarung. Disamping itu, kiprah perusahaan penerbangan ini juga sangat membanggakan dalam upayanya memperkenalkan Tanah Air di luar negeri melalui jalur penerbangan. 
  11. Pada bulan Juni 1948 Indonesian Office bertukar nama menjadi Indonesian House (tanggal 22 Agustus 2002 seluruh Staf KBRI melakukan napak tilas ke gedung bersejarah tersebut). Frekuensi kerja kantor baru kemudian makin meningkat. Aswismarmo yang ditugaskan di bagian penerangan telah menyelesaikan tugasnya dan digantikan oleh Ali Alqadri pada tahun 1948. 
  12. U Hla Htway yang saat ini (2002) menjabat sebagai Presiden Foreign Correspondents Club di Yangon mengenang kembali bahwa sebagai mahasiswa pada awal tahun 1949 ia menyaksikan suatu pengerahan massa di Rangon yang disponsori oleh Anti-Fascist People’s Freedom League (AFPFL) dan dihadiri oleh lebih dari 50.000 orang. Pengerahan massa yang terbesar pada saat itu menyoroti situasi di Indonesia. Hal itu sebagai ungkapan terbuka rakyat Birma yang memberi dorongan moral terhadap saudara-saudara mereka yang sedang berjuang melawan penindasan kolonial Belanda. Pada kesempatan itu, U Kyaw Nyein sebagai Sekjen AFPFL dan Menlu, memaparkan rencana untuk melakukan gerakan memboikot semua produk Belanda dan melarang penerbangan KLM di atas wilayah udaranya. Rencana tersebut diterima oleh massa dan mulai dilaksanakan pada saat itu juga. Para simpatisan Indonesia menganggap hari itu sebagai Indonesian Day karena mereka benar-benar memahami tekad rakyat Indonesia untuk terbebas dari penindasan kolonial karena mereka juga mengalami hal yang sama sebelum merdeka pada tanggal 4 Januari 1948. Peristiwa itu adalah satu pelopor bagi hubungan bilateral yang cemerlang antara Myanmar dan Indonesia di kemudian hari.
  13. Sejarah mencatat bahwa hubungan baik antara Indonesia dengan Birma dilatarbelakangi oleh kegemilangan masa lalu, dan untuk itulah pada tahun 1950 Presiden Soekarno menyatakan penghargaan dan terima kasih ketika melakukan lawatan ke Rangon. Presiden Soekarno menyatakan Birma sebagai sahabat seperjuangan dan sepenanggungan untuk cita-cita kemerdekaan sejati.