Home Bilateral Economics
Search
Economics

Indonesia – Myanmar Economic Relations

Values, barriers and opportunities in trade between Indonesia and Myanmar

According to the data, Indonesia's exports to Myanmar al include paper and paper products, palm oil, iron and steel, tobacco and rubber (2007: U.S. $ 262.39 million. As of June 2008 amounted to U.S. $ 140.13 million, an increase of 13.79% for the same period in 2007, although oil and gas exports decrease). Meanwhile, Indonesia's import from Myanmar a.l. cornstarch, timber, nuts, soda, fish and vegetables (2007: U.S. $ 30.39 million, as of June 2008 amounted to U.S. $ 19.64 million). Myanmar indicated its desire to import fertilizer or cement and invited Indonesian investors to invest or open a business in Myanmar.

The total value of Indonesia-Myanmar trade in the year 2008 (as of June) amounted to U.S. $ 159.7621 million increased by 9.61% compared to the same period in 2007 amounted to U.S. $ 145.750 million. Viewed from the balance of trade, transaction value between Indonesia and Myanmar show improvement from year to year, and Indonesia still have a surplus of trade balance, where the level of Indonesia's exports to Myanmar from year to year tend to increase, and the level of Indonesian imports from Myanmar also showed an increase . This shows an increase in trade relations between Indonesia and Myanmar.

Some barriers to trade between Indonesia and Myanmar during the two countries include:

  • Exports of both countries have similarities such as cement, timber, mining, minerals, and agricultural products, making the increase of trade.
  • Competitor countries especially the countries directly bordering Myanmar has a greater advantage than Indonesia with lower transport costs and sustainability of supply of goods given the distances that are closer to Myanmar.
  • The absence of direct transportation between Indonesia and Myanmar cause high freight expenses.
  • The number of major importers of Myanmar in general want a variety of goods imported in a variety of crates. This cannot be fulfilled by Indonesian businessmen considering the small number of requests.
  • It is difficult for private entrepreneurs of Indonesia to hold direct contacts with the Myanmar entrepreneurs to offer commodity goods exports.
  • Myanmar government is still implementing a licensing system for exports and imports.
  • Commodity export monopoly was granted to state-owned enterprises, under the Ministry of Commerce.

In addition to the obstacles mentioned above, there are some trade opportunities between the two countries which include:

  • Some commodities such as Myanmar has to offer agricultural commodities, in addition to rice and soybean, among others, chili, onion, pulses, and beans with competitive price and guaranteed quality as well as the payment method that can be negotiated are good opportunities for entrepreneurs, especially Indonesia;
  • As a fellow ASEAN country and good relations between the two countries since independence, is a big opportunity for Indonesian businessmen to penetrate the market for potential products of Indonesia in Myanmar.
  • Myanmar wants some commodities from Indonesia such as vegetable oils, agricultural implements, garments, and cement. Indonesia to offer commodities and other business areas offered include electronic equipment, cement, fertilizers, pharmaceuticals, garments, tires, radiator, pond fish / shrimp, palm oil, forestry, and telecommunications.
  • The possibility of making the draft Umbrella Agreement (Umbrella Agreement) in the field of bilateral economic cooperation, which both positively welcomed the idea.
  • Commodities that are traded between the two countries covering crops, fish and shrimp, agricultural equipment, electrical goods and electronics, paper, glassware, pharmaceuticals, cosmetics, building materials, soap and food ingredients.
  • One of the ways used to establish trade cooperation with other countries is through the cooperation of trade offs. This may also be useful in developing Indonesia trade cooperation with Myanmar.
  • Lately, more and more products of Indonesia are entering the markets in Myanmar, but the goods are incorporated into Myanmar by third parties, such as Singapore, Malaysia and Thailand.

Therefore, through the cooperation of trade and export-import arrangements between the two countries, it is expected that trade transactions can be done directly and can increase the trade volume significantly. In addition, Myanmar is in strategic location, surrounded by countries and potentially market economies such as China, India, Bangladesh and Thailand of large populations. This factor can develop a network for the marketing of Indonesian commodities.

Yangon, August 20, 2009

Hubungan Ekonomi antara Indonesia-Myanmar

Nilai, hambatan dan peluang perdagangan Indonesia – Myanmar

  1. Menurut data, produk ekspor Indonesia ke Myanmar a.l. meliputi kertas dan produk kertas, minyak kelapa sawit, besi dan baja, tembakau dan karet (2007: US$ 262.39 juta. Per Juni 2008 sebesar US$140.13 Juta, meningkat sebesar 13,79% untuk periode yang sama di tahun 2007, meskipun ekspor Migas mengalami penurunan). Sementara impor Indonesia dari Myanmar a.l. tepung maizena, kayu gelondongan, kacang-kacangan, soda, ikan dan sayur-sayuran (2007: US$ 30,39 juta, per Juni 2008 sebesar US$ 19.64 Juta). Myanmar mengindikasikan keinginannya untuk mengimpor pupuk atau semen dan mengundang investor Indonesia untuk menanamkan modalnya atau membuka usahanya di Myanmar.
  2. Total nilai perdagangan RI-Myanmar pada tahun 2008 (per Juni) sebesar US$ 159,7621 Juta meningkat sebesar 9,61% dibandingkan periode yang sama tahun 2007 (sebesar US$ 145,750 juta). Dilihat dari neraca perdagangan, nilai transaksi antara Indonesia dan Myanmar menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, dan Indonesia masih memperoleh surplus dari neraca perdagangan, di mana tingkat ekspor Indonesia ke Myanmar dari tahun ke tahun cenderung meningkat, dan tingkat Impor Indonesia dari Myanmar juga menunjukkan kenaikan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hubungan perdagangan antara Indonesia dan Myanmar.
  3. Beberapa hambatan perdagangan antara Indonesia dan Myanmar kedua negara yang selama ini mengemuka antara lain :
  4. Produk ekspor kedua negara memiliki kemiripan seperti semen, kayu, hasil tambang, mineral, dan produk pertanian, sehingga mempersulit dalam meningkatkan perdagangan. Negara-negara pesaing terutama negara-negara yang berbatasan langsung dengan Myanmar memiliki advantage yang lebih besar dibanding Indonesia dengan rendahnya ongkos angkut dan kesinambungan pasokan barang mengingat jarak yang lebih dekat ke Myanmar. Belum adanya transportasi langsung Indonesia

    Myanmar antara lain mengakibatkan mahalnya ongkos angkut langsung dari Indonesia. Jumlah importir besar Myanmar pada umumnya menginginkan impor berbagai macam barang dalam berbagai peti kemas. Hal ini belum bisa diwadahi oleh para pengusaha Indonesia mengingat kecilnya jumlah permintaan. Sulit bagi pengusaha swasta Indonesia untuk mengadakan kontak langsung dengan para pengusaha Myanmar guna menawarkan barang-barang komoditi ekspornya, karena kegiatan perdagangan di Myanmar dilakukan oleh pemerintahnya. Kesulitan yang dialami Pemerintah Myanmar untuk mengadakan pembelian barang-barang yang diperlukannya di pasar bebas karena devisa untuk barang impor pada umumnya berupa bantuan dan pinjaman dari negara-negara asing seperti Jepang, Jerman, dan badan-badan Internasional lainnya. Pinjaman-pinjaman tersebut pada umumnya harus dibelanjakan di negara-negara donor tersebut. Pemerintah Myanmar hingga kini masih menerapkan sistem lisensi terhadap ekspor dan impor, dan upaya permohonan lisensi ekspor dan impor para pengusaha ditolak oleh Pemerintah dengan tanpa penjelasan penuh. Monopoli ekspor komoditi ini diberikan kepada badan usaha milik negara, di bawah Kementrian Perdagangan.

  5. Disamping hambatan-hambatan tersebut di atas, terdapat beberapa peluang perdagangan kedua negara antara lain :

    • Beberapa komoditi yang ditawarkan Myanmar seperti komoditi pertanian, disamping beras dan kacang kedelai, antara lain chili, onion, pulses, dan beans dengan harga yang kompetitif dan kualitas terjamin serta metode pembayaran yang dapat dirundingkan merupakan peluang baik bagi pengusaha Indonesia khususnya;
    • Sebagai sesama negara ASEAN dan hubungan yang baik kedua negara sejak awal kemerdekaan merupakan peluang besar bagi para pengusaha Indonesia melakukan penetrasi pasar bagi produk-produk potensial Indonesia di Myanmar.
    • Keinginan Myanmar memasok beberapa komoditi dari Indonesia seperti minyak sayur, alat-alat pertanian, garmen, dan semen. Indonesia dapat menawarkan komoditi dan bidang usaha lain yang ditawarkan termasuk peralatan elektronik, semen, pupuk, farmasi, garmen, ban, radiator, tambak ikan/udang, kelapa sawit, kehutanan, dan telekomunikasi.
    • Kemungkinan untuk pembuatan naskah Persetujuan Payung (Umbrella Agreement) di bidang kerjasama ekonomi bilateral, yang keduanya secara positif menyambut baik gagasan tersebut.
    • Komoditi yang diperdagangkan kedua negara meliputi palawija, ikan dan udang, alat- alat pertanian, barang-barang elektrik dan elektronik, kertas, barang pecah belah, obat-obatan, kosmetik, bahan bangunan, sabun dan bahan makanan.
    • Salah satu cara yang digunakan untuk menjalin kerjasama perdagangan dengan negara lain adalah melalui kerjasama imbal dagang. Hal ini kiranya juga dapat dimanfaatkan Indonesia dalam mengembangkan kerjasama perdagangan dengan Myanmar.
    • Akhir-akhir ini makin banyak produksi Indonesia ditemukan di pasar-pasar di Myanmar, namun barang-barang tersebut dimasukkan ke Myanmar oleh pihak ketiga, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Oleh karena itu, melalui kerjasama perdagangan dan pengaturan ekspor-impor kedua negara, diharapkan transaksi perdagangan dapat dilakukan secara langsung dan dapat meningkatkan volume perdagangan secara signifikan. Selain itu, letak Myanmar yang strategis yang dikelilingi oleh negara-negara yang padat penduduk dan berpotensi ekonomi pasar seperti RRC, India, Bangladesh dan Thailand, dapat dikembangkan jejaring (hub/network) pemasaran komoditi Indonesia.


Yangon, 20 Agustus 2009