Home Bilateral Information, Social and Culture
Search
Information and Culture

Hubungan Bilateral RI-Myanmar di Bidang Penerangan dan Sosial Budaya

Hubungan bilateral di bidang penerangan dan sosial budaya antara lain terlihat dari partisipasi Myanmar dalam berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan maupun beasiswa yang ditawarkan oleh Pemerintah RI, juga kegiatan pembangunan kapasitas (capacity building) seperti program Kerja sama Teknik Negara Berkembang (KTNB). Luasnya cakupan kerja sama yang dapat diselenggarakan pada bidang ini dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah Myanmar yang cenderung keras untuk bidang politik dan ekonomi, sehingga bidang seni dan sosial budaya yang dapat dikatakan cenderung "harmless" lebih mudah untuk berkembang.

1. Seni Budaya

Dalam rangka peningkatan people-to-people contact, pergelaran-pergelaran seni budaya Indonesia terus digiatkan. Pada tahun 2009, dimana diperingati 60 tahun hubungan diplomatik RI-Myanmar, berbagai kegiatan seni budaya dilaksanakan sepanjang tahun guna mewarnai peristiwa bersejarah tersebut, seperti pergelaran upacara adat pengantin Sunda, pergelaran sendratari Ramayana, pergelaran upacara turun tanah (tedhak siten), serta penyelenggaraan "4th Culinary and Culture Fair". Seluruh kegiatan tersebut memperoleh sambutan yang sangat baik dari masyarakat setempat dan jajaran korps diplomatik di Yangon.

Kemudian pada tanggal 27 Desember 2009 (puncak peringatan 60 tahun hubungan diplomatik), telah diselenggarakan pergelaran budaya bekerja sama dengan National University of Arts and Culture di bawah Kementerian Kebudayaan Uni Myanmar, di National Theatre, Yangon, yang menampilkan pertunjukan budaya dari kedua negara. Pada kesempatan tersebut, sebuah tampilan paduan suara gabungan yang terdiri dari vokalis Indonesia dan Myanmar menyanyikan sebuah lagu ciptaan Sebastianus Sumarsono berjudul "Membangun Persahabatan". Kerja sama yang dilakukan demi terselenggaranya acara peringatan 60 tahun hubungan diplomatik RI-Myanmar tersebut tentunya telah membuka peluang untuk pelaksanaan kerja sama seni budaya lainnya di masa mendatang.

2. Keagamaan

Kesamaan warisan peradaban/budaya agama Buddha yang dimiliki oleh RI dan Myanmar merupakan satu hal istimewa yang dapat menjadikan kedekatan kedua negara lebih dari sekedar 'sahabat', tetapi sebagai 'saudara'. Ini tentunya membuka berbagai peluang kerja sama, terutama di bidang keagamaan, yang dapat dijajaki lebih jauh. Selama ini kerja sama di bidang tersebut telah terlihat dari banyaknya biarawan/biarawati Buddha yang memperdalam ilmu di universitas/institusi Buddhism Myanmar, seperti di Mandalay dan Yangon.

Pada bulan Mei 2009, Duta Besar LBBP RI Sebastianus Sumarsono sempat menghadiri kegiatan Trail of Civilization (TOC) di Borobudur. Program TOC yang dilaksanakan secara tahunan merupakan kelanjutan dari Borobudur Declaration yang dideklarasikan oleh 6 (enam) negara yaitu Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Thailand dan Viet Nam, yang memiliki kesamaan warisan budaya agama Buddha.

Selain itu pada bulan November 2009, Dubes RI juga berkesempatan menghadiri acara Puja Relik Buddha di Jakarta, yang mendatangkan relik-relik Buddha dari Myanmar dan Kamboja. Dalam hal ini KBRI turut berperan dalam persiapan acara, melalui fasilitasi yang diberikan kepada panitia penyelenggara dalam berkoordinasi dengan Pemerintah Myanmar. Dalam pertemuan dengan Menteri Agama Uni Myanmar, beliau menyampaikan harapannya agar kerja sama antara Indonesia dan Myanmar pada bidang keagamaan (khususnya Buddha) tidak terbatas pada penyelenggaraan acara tersebut saja, tetapi juga berlanjut dengan berbagai kerja sama lain di masa depan.

3. Kemanusiaan

Hubungan erat antara RI-Myanmar juga diwujudkan dalam bidang kemanusiaan, dimana kedua negara saling memberikan perhatian kepada satu sama lain di saat terjadi peristiwa bencana alam dahsyat yang melanda.

Saat Myanmar mengalami badai Nargis, Pemerintah RI serta merta berkomitmen untuk memberikan dana bantuan kemanusiaan senilai USD 1 juta. Meskipun penyampaiannya sempat terhambat karena masalah perbankan, namun akhirnya bantuan tersebut dapat diserahkan pada tanggal 31 Agustus 2009 di Nay Pyi Taw.

Kemudian ketika terjadi peristiwa gempa bumi yang melanda wilayah Padang, Sumatera Barat, Pemerintah Myanmar pun menunjukkan solidaritasnya dengan menyampaikan sumbangan senilai USD 50 ribu pada tanggal 5 November 2009 di Yangon.